LITURGI ILAHI (Bagian I)

– Makna Liturgi –

Dalam rangkaian tulisan di bawah judul “Liturgi Ilahi” penulis akan mencoba mengantar pembaca masuk dalam pengertian dasar tentang puncak kehidupan iman Kristiani terutama dari sudut pandang Gereja Katolik Timur Ritus Bizantium.

Doa dan Persekutuan Gereja.

Tradisi berdoa bersama dalam keluarga kristiani

Dalam kehidupan Kristiani, doa merupakan pusat kehidupan iman, Rasul Paulus mengingatkan untuk “Tetaplah berdoa” (1Tes 5:17), doa merupakan sarana komunikasi antara manusia dengan sang Pencipta, dalam doa sering dijumpai percakapan yang dalam dengan sang Pencipta, seperti misalnya Abraham yang berdoa bagi keselamatan Lot (Kej 18:16-33), namun doa juga menjadi sarana permohonan kepada Allah, (bdk. 1Sam 1:27; 2Taw 33:12-13), doa juga merupakan tanda bahwa manusia bukanlah apa-apa tanpa Allah, dalam doa manusia menyadari kodratnya sebagai orang berdosa dan memohon pertolongan Allah (bdk. Ezr 10:1; Neh 1:3,4;) dan doa juga merupakan pujian bagi Allah atas segala kekuasaan-Nya, seperti halnya dalam Kitab Mazmur yang merupakan doa pujian bagi Allah.

Dalam peribadatan, baik pada zaman Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, doa merupakan bentuk ibadat yang paling umum. Dalam sejarah, doa memiliki perkembangan bentuk yang sedemikian rupa, mulai dari doa yang amat sederhana hingga doa yang memiliki bentuk yang lebih kompleks yang membutuhkan suatu peraturan dan petunjuk tertentu. Doa dalam artian sebagai beribadah kepada Allah memiliki bentuknya seiring dengan perkembangan zaman. Demikian pula sebagai contoh: Doa Syafaat Abraham (Kej 18:16-33), Doa-doa Musa ketika memohonkan kepada hukuman atas Mesir, doa nabi Elia dihadapan nabi-nabi Baal (1Raj 18:20-46), merupakan beberapa contoh doa yang sederhana, tanpa ada suatu petunjuk khusus, namun hal ini akan nampak mencolok jika dibandingkan dengan seluruh tata aturan ibadat dalam kitab Imamat, dimana dalam kitab Imamat diatur sedemikian rupa tata kebaktian bagi umat Israel yang dilaksanakan oleh para Imam keturun Harun dan orang-orang Lewi, yang mana dalam kitab Imamat juga melingkupi apa yang harus dan yang tidak boleh dilakukan dalam kebaktian.

Dalam alasan yang sederhana, mengapa Allah menyampaikan aturan untuk berdoa (beribadat) kepada Musa tidak lain adalah sebagai tanda yang membedakan antara umat Allah dan yang bukan umat Allah. Demikian hal ini terus terpelihara hingga zaman Tuhan Yesus, yang mana dapat diketahui dimana ketika Yesus lahir, Ia pun turut melaksanakan tata ritual menurut apa yang ditetapkan Allah dalam Perjanjian Lama (bdk. Luk 2:21-23, 41-42), dan Yesus pun turut melaksanakan Hukum Taurat dengan melaksanakan hari Sabat (Mat 4:23; Mrk 1:21; Luk 4:31 dst). Secara umum selain ibadat-ibadat kurban, ibadat dalam Sinagoga secara umum meliputi doa-doa, nyanyian Mazmur, Pembacaan Hukum (Kitab Suci), dan khotbah atau pengajaran. Namun menjadi ciri khas dalam ibadat Yudaisme, yakni adanya serangkaian acara perjamuan yang sering juga merupakan rangkaian dalam ibadat, seperti perjamuan Paskah, pada hari Purim dimana pada hari-hari ini orang Yahudi akan mengunjungi sanak saudara dengan membawa hantaran makanan, dan lain sebagainya.

Yesus Mengajar Dan Beribadat di Sinagoga

Demikian apa yang dilaksanakan dalam Sinagoga juga menjadi pola ibadat dalam komunitas kristiani perdana, mengapa demikian? Karena pada awalnya umat Kristiani pada zaman para rasul, masih merupakan bagian dari komunitas Yahudi, sehingga mereka, juga para rasul masih melakukan peribadatan ke Bait Allah, hingga hancurnya Yerusalem, dan ditambah lagi dengan adanya penganiayaan pada komunitas kristiani perdana. Karena alasan inilah, mengapa tata ibadat kekristenan memiliki pola yang mirip dengan ibadat di Sinagoga.

Sering muncul pertanyaan di kalangan orang Kristen sendiri, mengapa harus hari Minggu dan apa yang dilakukan oleh para rasul ketika hari Minggu itu? Pada zaman modern ini, setiap hari Minggu, umat beriman Kristiani pergi ke Gereja untuk melaksanakan ibadat, dimana pergi ke Gereja pada Hari Minggu untuk melaksanakan Ibadat sudah menjadi suatu bentuk tradisi sejak zaman para rasul (lih. Yoh 20:19; Kis 20:7). Dalam Alkitab dijelaskan dengan sangat jelas, bahwa para rasul berkumpul pada hari pertama dalam minggu yakni hari setelah hari Sabat (karena hari Sabat adalah hari ketujuh), hari pertama itu merupakan hari yang sangat istimewa bagi semua orang Kristen, yakni hari dimana Tuhan Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati, yakni hari Minggu.

Para rasul pada awalnya beribadat di Bait Allah sesuai dengan tradisi Yudaisme, (lih. Kis 3:1, 10:30; Dan 6:10, 13), bahkan Yesus pun masih pergi ke Bait Allah dan mengajar pada hari Sabat di Sinagoga, dimana para rasul dan para murid Yesus pertama melaksanakan seluruh tata ibadat dalam kerangka dan ajaran Yahudi. Seiring dengan perkembangan waktu dan hancurnya Bait Allah, ditambah dengan adanya penganiayaan baik dari kalangan orang Yahudi maupun orang Roma pada waktu itu, yang memaksa orang Kristen pada waktu itu beribadat dengan sembunyi-sembunyi, seperti di rumah-rumah, katakombe-katakombe, gua dan lain sebagainya, namun demikian komunitas kekristenan pertama dalam melaksanakan pertemuan ibadatnya tetap berpola pada tata ibadat yang bercorak yudaisme, dalam hal ini seperti halnya dalam Sinagoga.

Alkitab mencatat dengan baik tentang kehidupan peribadatan orang Kristen generasi pertama (zaman para rasul), dalam Kisah 2:41-47, dimana dapat dijumpai apa yang dilakukan oleh jemaat pertama dalam beribadat, dikatakan bahwa “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.” Baiklah jika dicermati, bahwa pada awal pertumbuhan komunitas kristiani, jemaat awal melaksanakan ibadat dengan tetap berpola pada ibadat di Sinagoga, dengan berpusat pertama pada pengajaran para rasul, yang dalam tradisi tulisan Santo Yustinus digambarkan sebagai tulisan “yang ditinggalkan oleh para rasul” dan persekutuan (κοινωνία) yang berpuncak pada pemecahan roti (κλάσει τοῦ ὰρτου) dan doa bersama. Demikian pula bentuk ibadat ini merupakan perpanjangan tradisi Perjanjian Lama, dimana Pengajaran Kitab Suci dan Perjamuan (makan bersama) merupakan satu kesatuan rangkaian tata ibadat.

Dua pola inilah yang menjadi dasar dalam pembentukan tata ibadat gerejawi dikemudian hari. Dalam konteks peribadatan, aspek κοινωνία (yakni sebagai persekutuan jemaat), bahwa setiap ibadat merupakan persekutuan umat beriman, dimana satu orang dengan yang lain saling memecahkan roti dengan sukacita dan memuji Allah (Kis 2:46-47). Tindakan bersama dalam umat beriman inilah yang kemudian menjadi akar kata dari Liturgi.

Kata Liturgi berasal dari bahasa Yunani yakni λειτον yang berarti umat, bersama, publik, umum, dan kata εργα yang berarti pekerjaan, karya, atau pelayanan. Sehingga menurut terminologi Liturgi memiliki makna sebagai tindakan bersama atau pekerjaan bersamaan, yang dalam konteks ibadat gerejani yakni seluruh tindak bersama umat beriman bagi Allah.

Perkembangan bentuk ibadat dalam Gereja yang Katolik dan Apostolik ini terus mengalami perkembangan, dimana tata ibadat gerejawi menggambarkan kehidupan umat beriman dalam kerangka misteri keselamatan Allah, hal ini dapat dijumpai dengan pemaknaan lebih mendalam terutama yang berpusat pada kehidupan Yesus Kristus, mulai dari nubuatan para nabi sebelum kedatangan Yesus, hingga misteri Paskah yang berpuncak pada harapan iman akan kedatangan yang mulia untuk kedua kalinya, Tuhan Yesus Kristus ke dunia sebagai penggenapan seluruh Kitab Suci.

Sejak zaman para rasul, ibadat komunitas kristiani mengalami perubahan sesuai dengan kondisi budaya setempat, dengan tetap mempertahankan dua aspek utama, yakni pengajaran para rasul dan pemecahan roti, hal ini terus mengalami perkembangan sehingga memiliki bentuknya seperti yang sekarang ini, baik di Timur maupun di Barat yang memiliki perkembangan dan genealogi liturgi yang masing-masing memiliki sejarah yang panjang dan ciri khasnya masing-masing seperti misalnya: Ritus Anthiokia melahirkan ritus tradisi Syiria Barat dan Timur, Bizantin, bahkan tradisi Latin; Ritus Aleksandria melahirkan tradisi Koptik, Etiopia, dan lain sebagainya.

Sebagai salah satu sumber sejarah dapat dipertimbangkan dalam kesaksian Santo Yustinus Martir, dalam Apologianya, di sana dijumpai suatu tata ibadat (liturgi) komunitas kristiani perdana yang juga mendukung isi Kisah 2:41-47, demikian tulis Santo Yustinus Martir:

“Pada hari yang disebut hari Minggu, semua yang tinggal di kota dan desa berkumpul untuk suatu perayaan bersama (λειτουργια). Kemudian tulisan yang ditinggalkan oleh para rasul atau tulisan dari para nabi dibacakan selama waktu mengizinkan. Setelah pembaca menyelesaikan tugasnya, pemimpin memberikan suatu amanat (homili) yang isinya mengingatkan umat beriman agar hidup sesuai dengan ajaran-ajaran mulia itu. Kemudian kami semua bersama-sama berdiri dan memanjatkan doa. Setelah doa-doa itu berakhir, roti dan anggur, dan air dibawa dan pemimpin menyampaikan doa-doa dan doa syukur agung – sesuai dengan kemampuannya. Umat menjawab doa syukur dengan kata ‘amin’. Kemudian bahan-bahan yang atasnya telah disampaikan doa syukur itu (maksudnya roti dan anggur ekaristis) dibagikan kepada seluruh umat yang hadir, dan diakon-diakon mengambil beberapa untuk dikirimkan kepada mereka yang tidak hadir. Sebagai tambahan, orang-orang yang berkecukupan mengumpulkan sumbangan sesuai dengan kerelaan mereka. Sumbangan yang terkumpul itu dibawa dan diurus oleh pemimpin umat untuk digunakan bagi keperluan menolong para janda dan yatim piatu.” (Apologia I, 67).

Dari kesaksian tersebut, dapat diketahui bahwa bentuk liturgi pada hari ini, baik di gereja barat maupun timur, memiliki bentuk ibadat yang sama dengan zaman para rasul yang dalam hal ini dapat ditelusuri secara historis. Yakni pengajaran para rasul dan para nabi, dan perjamuan kudus atau ekaristi.

Dalam sejarah dicatat, selain kesaksian dari Santo Yustinus Martir, yakni dari tulisan Santo Basilius Agung, Uskup Kaisarea-Kapadokia, dimana diketahui tata ibadat (baca: liturgi) yang disusun sedemikian rupa dengan sebutan Liturgi Ilahi (Θεια Λειτουργια), dimana Santo Basilius Agung menyusun suatu doa syukur dalam perjamuan kudus (αναφορα) yang secara keseluruh berisi tentang sejarah umat manusia, sejarah dan karya keselamatan, hingga kurban penebusan dan kebangkitan Tuhan Allah dan Juruselamat kita Yesus Kristus, serta tentang kedatangan sang Juruselamat yang kedua.

Misa yang lazim dirayakan Pra-Konsili Vatikan II
Liturgi Ilahi yang dirayakan oleh Patriark Sviatoslav Shevchuk (Patriark Gereja Katolik Greko-Ukraina)

Selanjutnya dalam sejarah, Santo Yohanes Krisostomus Uskup Konstantinopel, dengan merujuk kepada Liturgi Ilahi Santo Basilius Agung, menyusun suatu teks liturgi yang lebih singkat, yang dikenal hingga saat ini sebagai Liturgi Ilahi Santo Yohanes Krisostomus. Baik Liturgi Ilahi St. Basilius Agung maupun St. Yohanes menjadi dasar dan pegangan ibadat bagi umat kristiani terutama pada tradisi Byzantium di Gereja Timur. Sedangkan di Gereja Barat, selain tulisan St. Yustinus Martir, tradisi mencatat bahwa seperti St. Gregorius Paus dan Uskup Roma menyusun suatu tata ibadat (yang dalam Ritus Bizantium dikenal sebagai Liturgi Ilahi Santo Gregorius Dialogos Paus dan Uskup Roma, dimana dalam liturgi ini yang menjadi ciri khasnya adalah tidak adanya bagian konsekrasi (Doa Syukur Agung), melainkan menggunakan Sakramen Mahakudus yang dikonsekrasi pada hari Minggu sebelumnya) dan demikian juga lahirnya Kanon Romawi (Sekarang dikenal dengan nama Doa Syukur Agung I dalam Misale Romanum) yang sepanjang sejarah tidak banyak mengalami perubahan, demikian juga seperti Liturgi Ambrosian, Mozarabik, Dominikan, dan lain sebagainya. Dari hal ini, baik di Barat maupun Timur, perkembangan Liturgi memiliki tempatnya sendiri yang mengalami perjalanan yang sangat panjang, sama panjangnya dengan terbentuknya Gereja Yesus Kristus di dunia ini.

Mengapa Perjamuan Kudus?

Pada malam sebelum Ia menderita sengsara disalibkan, Yesus melaksanakan perjamuan paskah sesuai dengan adat dan tata umat Yahudi, pada suatu ruangan atas di kota Yerusalem, Yesus mengambil roti dan berkata kepada para murid-murid-Nya, “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku.” Sesudah itu Ia mengambil cawan yang berisi aggur, mengucap syukur lalu memberikannya kepada para murid-Nya dan berkata: “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Mat 26:26-28) Selanjutnya setelah pengucapan syukur atas roti dan anggur dalam perjamuan paskah tersebut, Yesus menegaskan, “perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk 22:19).

Kisah tentang perjamuan terakhir Yesus sebelum menderita sampai wafat disalibkan, merupakan kisah yang paling diingat dalam Alkitab, hal ini dapat dipahami, karena dalam kisah perjamuan malam terakhir, Yesus memerintahkan kepada para murid untuk melakukan perjamuan kudus ini, untuk mengenangkan dan menjadi peringatan akan Yesus Kristus. Dari kisah inilah, dapat diketahui bahwa Yesus menetapkan dan memerintahkan agar umat Kristiani merayakan peringatan akan Yesus dengan melakukan perjamuan kudus. Inilah yang menjadi landasan dan latar belakang mengapa komunitas kristiani perdana selain bersekutu dalam pengajaran para rasul dan para nabi, juga mereka bersama mengucap syukur atas roti dan anggur dan memecahkan roti sebagai bagian dari ibadat mereka. Dan demikian pula ditegaskan kembali oleh Rasul Paulus, “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” (1Kor 11:26), Rasul Paulus memberikan suatu arah bahwa perjamuan kudus juga merupakan bentuk kesaksian iman akan Tuhan yang wafat dan bangkit dari kematian, yang naik ke surga dan yang akan datang kembali, yang harus menjadi pusat dan sumber kehidupan iman umat kristiani.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perjamuan kudus juga sudah merupakan kebiasaan para murid dan komunitas kristiani perdana setiap kali mereka berkumpul pada hari pertama dalam minggu (lih. Kisah 2:42, 46-47, 20:7-11).

Apa itu Liturgi Ilahi?

Liturgi Ilahi memiliki dua kata dasar, yakni Liturgi dan Ilahi. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Liturgi memiliki arti sebagai tindakan bersama, karya bersama; sedangkan Ilahi merujuk kepada Allah, Tuhan Semesta alam. Liturgi Ilahi secara harfiah dapat dipahami sebagai tindakan atau karya umat beriman bersama-sama bagi Allah. Liturgi Ilahi dapat juga dipahami sebagai Ibadat bersama bagi Allah.

Menurut istilah, Liturgi Ilahi dapat pula dipersamakan dengan istilah Misa, Ekaristi, Perjamuan Kudus, Komuni Kudus, Sakramen Cinta Kasih. Yang pada intinya merupakan Misteri Kudus yang didalamnya dihadirkan Cinta Kasih Allah, yakni Yesus Kristus, dimana Yesus sungguh hadir, dalam rupa Roti dan Anggur, dimana Roti dan Anggur menjadi Tubuh dan Darah Tuhan Yesus Kristus. Dalam Liturgi Ilahi Kristus sungguh Hadir dan Nyata dalam rupa Roti dan Anggur, Tubuh-Nya, Darah-Nya, Jiwa-Nya, dan Ke-Allah-an-Nya. Yesus hadir karena Kemahakuasaan Allah. (YAR)