Apa itu Ikon dan mengapa ia BISA menyelamatkan?

Gereja Barat (Gereja Katolik Roma, misalnya) cenderung menghiasi gedung gerejanya dengan patung-patung Tuhan dan santo-santa. Sementara Gereja Timur (Gereja Katolik Timur dan Gereja Orthodox Timur, misalnya) cenderung menghiasi gedung gerejanya dengan lukisan-lukisan Tuhan dan santo-santa yang bukan saja agar dipandang indah oleh mata, melainkan membawa orang untuk mengerti misteri-misteri ilahi.

Dengan kata lain, lukisan-lukisan itu mampu memasukkan orang ke sorga ! Bagaimana caranya? Wah, kok bisa ya benda mati dapat mengintervensi perkara yang hanya boleh diurus Tuhan saja? Apakah ini berhala? Apakah ini alkitabiah/biblis?

Pertanyaan-pertanyaan ini dan yang serupa dengan itu akan dibahas dan dijawab dalam postingan selanjutnya. Dalam postingan ini, sebagai dasarnya, mari kita belajar dulu mengenai apa itu Ikon?

Perhatikanlah Desain gedung Gereja Katolik Timur dan Orthodox dibawah ini !

Denah Isi Gedung Gereja Orthodox dan Katolik Timur. Hak Cipta

Kemudian, perhatikanlah foto-foto dari berbagai macam Ruang Kudus dari gereja-gereja di belahan dunia, dibawah ini:

Ikonostasis di Ruang Kudus Gereja St Nikolas, Amerika
Ikonostasis di Ruang Kudus Gereja Perlindungan Theotokos, Kizhi, Rusia. Hak Cipta
Umat berdiri menghadap Ikonostas di Ruang Kudus, di Gereja Terangkatnya Theotokos ke Sorga, Centralia, Amerika. Hak Cipta
Interior Ruang Kudus Gereja Bala Malaikat Kudus, Amerika. Hak Cipta

Gereja Katolik Timur dan Orthodox menyebut lukisan kudus didalam gerejanya sebagai “Ikon”.
Ikon adalah lukisan kudus. Kudus berarti sesuatu yang terpisah dari dunia, terpisah dari segala yang jahat. Segala barang yang terpisah dari Allah yang adalah sumber kebaikan adalah jahat.

Ikon hanya menggambarkan segala yang kudus. Ada Ikon yang menggambarkan figur Tuhan Yesus, figur Bunda Maria dan orang kudus, juga ada Ikon yang menggambarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi di sepanjang zaman Perjanjian Lama maupun zaman Perjanjian Baru kini.

Ikon bukan lukisan biasa. Orang-orang tidak memandang Ikon untuk dikagumi. Tujuannya bukan itu. Ikon dimaksudkan untuk menjadi jendela sorga.  Artinya, Ikon menggambarkan suasana yang sedang terjadi di sorga sekarang, maupun yang telah dan akan terjadi dalam suasana sorgawi, didalam kemuliaan Tuhan. 

Ikon bukanlah lukisan biasa. Bahkan Ikon berbeda dengan Lukisan Rohani.

Perhatikan kedua gambar Tuhan kita Yesus Kristus dibawah ini:

Lukisan Yesus Kristus, karya Hans Zatzka Zabateri. Ini adalah Lukisan Rohani biasa.
Ikon Tuhan kita Yesus Kristus, dari Galeri Tretyakov. Ini adalah Ikon Kudus.

Sekilas pandang, kita mungkin akan berasumsi bahwa yang membedakan kedua gambar Tuhan Yesus Kristus ini adalah cara penggambaran yang satu lebih realistis dan yang lain tidak. Tetapi sebenarnya, ada lebih banyak faktor yang membedakan Ikon dengan Lukisan Rohani.

Apa saja yang membedakan?

1.Cara penggambaran

Figur dalam Ikon tidak digambarkan realistis, sementara tujuan  dalam lukisan biasa pada umumnya adalah untuk menyerupakan semirip mungkin dengan apa yang benar-benar dilihat oleh mata.

Ilmu pengetahuan dan peradaban Byzantin yang berkembang membatasi figur-figur dalam Ikon untuk menjadi realistis. Ikon dipertahankan dan dilestarikan dalam bentuk yang alegorikal, kuno, orientalis dan kabalistik.

2.Arti warna

Warna dalam Ikon merefleksikan makna-makna tertentu. Lukisan biasa juga dapat merefleksikan suatu maksud dalam permainan warnanya. Akan tetapi, warna dalam Ikon tidak terlukis menurut kemauan sang penulis (pelukis) Ikon. Melainkan setiap maksud dari warna dalam Ikon haruslah secara tradisional merepresentasikan maksud yang senantiasa sesuai menurut dasar-dasar spiritualitas Byzantin seperti yang sudah dibahas pada pasal-pasal sebelumnya. Oleh sebab itu, Ikon biasanya memiliki model dengan fitur-fitur tertentu yang mengikat dan senantiasa ada jika ditulis (dilukis) kembali.

3. Pelibatan Emosi

Ikon tidak bertujuan untuk menggugah perasaan melainkan untuk mengungkapkan kebenaran iman. Lukisan biasa biasanya melibatkan permainan emosi dari pemandangnya. Emosi absen dari ikonografi.

4.Simbolisasi

Simbol-simbol memainkan peran penting dalam Ikon. Berbeda dengan lukisan biasa yang diberikan simbol sesuai selera pelukisnya dengan pesan khususnya, Ikon menampilkan simbol-simbol sesuai dengan dasar-dasar spiritualitas Byzantin.


Perbedaan-perbedaan diatas dapat juga dijabarkan sebagai berikut:

TUJUAN : Lukisan Rohani cenderung bersifat naratif, sehingga bersifat mengajak orang untuk turut merasakan pengalaman secara emosional dan imajinasi inderawi dari lukisan tersebut. Contohnya adalah dalam lukisan Pieta dari Bouguereau. Sang pelukis benar-benar menggambarkan suasana sendu dan pilu. Lukisan penuh dengan emosi manusiawi.
TUJUAN : Mirip dengan lukisan sebelumnya (Pieta), namun, lukisan ini dapat disebut sebagai Ikon. Mengapa? Ikon ini tidak menggambarkan emosi manusiawi, atau setidaknya tidak mengajak yang melihat untuk tergugah secara emosional. Sebaliknya, Ikon selalu melukiskan ketenangan, kesadaran penuh atas apa yang sedang terjadi dan tidak hanyut oleh perasaan. Ikon menampakkan keadaan sorgawi dan bertujuan untuk mendewasakan rohani seseorang.
INTERPRETASI : Lukisan diatas adalah lukisan penyaliban Tuhan menurut penampakan yang disaksikan oleh St Yohanes dari Salib dan yang dilukiskan oleh Salvador Dali. Pelukis memasukkan ide penafsirannya sendiri bahkan memiliki dasar dari wahyu pribadi yang diterima oleh St Yohanes. Benar bahwa lukisan ini sarat akan makna. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa lukisan ini tidak sepenuhnya berasal dari Tradisi Suci (termasuk Alkitab), tetapi dari penilaian dan keputusan pribadi sang pelukis.
INTERPRETASI: Ikon diatas adalah contoh umum Ikon penyaliban Tuhan. Semua yang terlukis disini berasal dari kesaksian Injil dan Nubuatan Para Nabi. Contohnya, diatas salib terlihat bulan yang menjadi merah dan matahari yang menjadi gelap. Itu adalah nubuatan dari Nabi Yoel 3:15. Bunda Maria dan St Yohanes terlihat sebelah menyebelah dibawah Salib Tuhan kita. Ini sesuai dengan kesaksian Injil Yohanes 19:26. Begitupula dengan serdadu yang berada disampingnya, dan seterusnya.
Tidak ada Ikon yang ditulis berdasarkan wahyu pribadi atau selera sang pelukis (Ikonografer). Tradisi suci adalah landasan dari semua Ikon. Oleh sebab itu, setiap Ikon mempunyai pola yang khas.
Dalam Ikonografi, kreativitas dan imajinasi dari sang Ikonografer absen.
KEBEBASAN : Lukisan diatas ini sebenarnya dimaksudkan untuk menjadi sebuah Ikon. Pelukisnya disebut-sebut adalah Frater Robert Lentz, OFM. Lukisan ini diberi nama “Tuhan dari Tari-tarian”, yang kemungkinan besar adalah interpretasi bebas dari Alkitab, atau juga merupakan inkulturasi dengan satu budaya pagan. atau dapat juga merupakan suatu sindiran sosial. Intensi sang rahib tidak dapat dipersalahkan, oleh sebab seni merupakan suatu jalan seseorang mengungkapkan kebebasannya berekspresi, akan tetapi, itu menghalangi lukisan ini untuk cukup pantas disebut ikon.
KEBEBASAN : Diatas ini adalah Ikon dari Lukas, penulis Injil, yang sedang menulis Ikon Theotokos, karya Guru Liviu Dumitrescu. Menurut Legenda, Santo Lukas adalah Ikonografer pertama.
Berbeda dari lukisan rohani, menggambar Ikon merupakan proses yang rumit. Sang Ikonografer berpuasa jauh-jauh hari sebelum menulis Ikon. Yang digambarkan bukan berasal dari imajinasinya sendiri, tetapi harus berasal dari yang telah terpelihara oleh Tradisi suci selama berabad-abad. Ikonografer, melalui puasa dan rangkaian latihan rohani yang dia lakukan sebelum menulis Ikon, dituntut untuk mengenali figur yang dia lukiskan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah, Sang Pelukis sejati.
SIMBOLISASI : Diatas adalah lukisan “Transfigurasi Tuhan” oleh seniman Harold Copping, Seirama dengan lukisan ini, lukisan-lukisan rohani lainnya hanya menampilkan hal-hal yang dapat dijangkau secara indriawi. Kemuliaan digambarkan sedemikian rupa sesuai dengan wujud yang memungkinkan untuk ditangkap secara visual, misalnya pancaran cahaya atau kabut/awan yang lebat. Oleh karena lukisan rohani umumnya bersifat naratif, jarang terdapat simbolisasi khusus dalam lukisan rohani.
SIMBOLISASI : Diatas ini adalah Ikon dari St Kristoforus. Dia digambarkan berkepala anjing, berangkat dari legenda yang mengatakan bahwa dia terlahir dengan wajah rupawan, sehingga untuk menghindari terjatuh dalam pencobaan, Kristoforus berdoa agar Allah menyelubungi karunia ketampanannya itu. Kristoforus kemudian menjadi martir, dan sikapnya tadi dianggap sebagai suatu keutamaan.
Simbolisasi seperti ini yang mengungkapkan maksud yang sesungguhnya dari yang sebenarnya terjadi. Kemuliaan digambarkan dalam Ikon dalam rupa-rupa warna. Para Malaikat diberikan tubuh, bahkan diberikan sayap. Simbolisasi inilah yang lahir dari dan menghiasi Ikonografi.
KONSEP RUANG-WAKTU: Lukisan diatas adalah lukisan pemberian kunci kerajaan sorga kepada Petrus, terambil dari Kesaksian Injil Matius 16:16-18. Lihatlah tiap-tiap figur dalam lukisan ini. Semuanya menempati posisi masing-masing dan bersikap secara manusiawi. Lukisan ini sangat mendekati dengan seni fotografi. Dengan jelas kita dapat mengidentifikasi latar belakang lokasi dan suasana dari peristiwa yang tergambarkan dalam lukisan rohani ini.
Lukisan rohani umumnya terpaku pada satu peristiwa tertentu.
KONSEP RUANG-WAKTU : Ikon diatas adalah Ikon “Orang Samaria yang murah hati”. Berbeda dengan lukisan dan fotografi yang hanya merekam suatu peristiwa di satu waktu dan tempat tertentu, dari Ikon ini kita dapat membaca seantero isi perumpamaan mengenai orang Samaria yang murah hati.
Baik dalam Ikon ini maupun Ikon yang lain, kita bisa mendapati rentetan peristiwa yang terjadi di berlainan tempat dan waktu, hadir serentak dalam Ikon yang satu. Hal ini mungkin terjadi, sebab Ikon adalah melukiskan peristiwa kudus (dalam hal ini perumpamaan yang dibabarkan Tuhan kita yang pada kenyataannya adalah satu kesatuan yang tidak boleh dibaca sepenggal-penggal) yang pada aturannya, menembus batas-batas waktu dan tempat.
KONSEP DIMENSI : Lukisan rohani menggambarkan dengan jelas kesan tinggi, panjang dan lebar dari semua barang dalam lukisan. Kebanyakan lukisan rohani bersifat realistis, yang berarti penggambarannya mesti tepat dengan apa yang dilihat oleh mata.
KONSEP DIMENSI : Dimensi dalam Ikon tidak menggambarkan apa yang sekadar kasat mata. Ukuran dalam berbagai aspek dalam Ikon diwujudkan dengan pertimbangan mendalam supaya memberikan makna Teologi yang tepat dan paripurna. Dalam Ikon pertobatan Paulus diatas, misalnya, Paulus yang bertobat berukuran tubuh yang lebih besar, mengindikasikan bahwa ia dipanggil menjadi jauh lebih besar setelah pertobatannya.
STATIS-DINAMIS : Lukisan rohani senantiasa menggambarkan suatu peristiwa yang terkesan tengah terjadi. Suatu peristiwa baru saja dimulai dan belum selesai. Lukisan rohani bersifat dinamis. Kesan dinamis menambahkan efek spektakuler.
STATIS DINAMIS: Dalam Ikon, peristiwa-peristiwa yang digambarkan memberikan kesan kegenapan. Misalnya dalam Ikon Kabar Sukacita, Bunda Maria digambarkan sudah mengetahui apa yang akan diminta daripadanya dan apa konsekwensinya, sehingga wajah Maria tidak terlihat terkejut atau terbeban, melainkan terlihat mantap dan teguh hati. Tidak ada kesan gerakan yang terburu-buru dalam Ikon. Segala hal nampak penuh ketenangan, penuh kedamaian dan pengetahuan yang sempurna.

Istilah Ikon hanya bisa disematkan kepada lukisan yang membuat kita menyelam kedalam kontemplasi mengenai iman yang benar. Lukisan yang membuat kita memanjat ke sorga. Lukisan yang tidak membuat kita terbawa emosi, melainkan menerangi akal kita sehingga kita dapat melaksanakan perbuatan yang selaras dengan kehendak Allah.

Maka, Ikon harus mengungkapkan iman yang benar, yang selaras dengan ajaran Kristus yang diwariskan para rasul dan diajarkan Gereja. Untuk alasan itulah ada cara khusus dalam menggambarkan Ikon. Ini disebut sebagai pakem ikonografi.

Lukisan khusus yang kudus, jendela ke sorga, itulah Ikon.  (CT)