Mengapa Ikon HARUS ada?

Pengertian Ikon secara bendawi

    Ikon adalah sebuah lukisan rohani (meskipun nantinya kita akan menemukan bahwa Ikon tidak dapat digolongkan sebagai sebuah karya seni) yang hanya bertujuan untuk menggambarkan perihal yang kudus (kendati figur setan dan orang jahat hadir juga dalam Ikon, kehadiran mereka adalah untuk menunjang kekudusan dari figur utama yang diungkapkan).

Ikon ini bukanlah sembarang lukisan yang berbuah dari ekspresi hati siapa saja, melainkan sebuah gambaran yang berbuah dari isi Tradisi Suci (termasuk Alkitab).

bagian sebelumnya: https://byzantinitas.org/2019/09/02/apa-itu-ikon-dan-mengapa-ia-bisa-menyelamatkan/

Biasanya, alasan-alasan Teologis dalam hal seperti ini muncul kemudian sebagai pendukung alasan praktis untuk mempertahankan penggunaannya. Oleh sebab itu, rasanya adalah bijaksana jika kita meninjau alasan-alasan praktis terlebih dahulu sebelum memulai mengaji alasan-alasan Teologis.

Eksistensi Ikon menurut alasan praktis

Dalam sebagian besar Gereja Kristen non-Timur, mereka yang sudah menjadi Kristen sejak dini mengenal istilah “Sekolah Minggu” yang adalah sebuah acara-ibadah kecil yang diselenggarakan agar anak-anak usia dini mengenal iman Kristen. Kerap para guru sekolah Minggu menggunakan gambar-gambar rohani yang membantu pengajarannya.

Contoh yang lain sebagai pendahuluan: Pada masa kini, suatu produk lebih ternilai dan lebih dianggap jika menyajikan Iklannya secara visual, ketimbang hanya secara verbal.

Dari kedua contoh sederhana diatas, bahwa untuk mewujudkan suatu gagasan dengan rupa visual adalah sebuah kebutuhan manusia. Begitupun umat perdana. Mereka yang mendengar cerita-cerita Alkitab, tergerak untuk mewujudkan peristiwa-peristiwa itu dalam bentuk gambar.

Sejak zaman purbakala, manusia tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan mewujud-nyatakan suatu ide atau gagasan. Insan bertuhan memiliki kebutuhan ini terlebih lagi.

Yang Mahakuasa dan kekuatan-Nya secara beragam diwujudkan oleh masing-masing kelompok umat tuhan. Ada yang mewujudkannya dengan gambaran diatas kayu, pahatan, patung atau api yang bernyala. Ada yang mewujudkannya dengan rupa manusia, dengan rupa binatang maupun dengan rupa benda mati, misalnya gunung yang besar atau benda-benda di langit.

Kebutuhan itupun tidak luput dari agama Kristen. Umat Allah mengetahui bahwa Allah telah mengambil rupa manusia. Umat Allah merindukan ungkapan secara indria yang dapat dirasai pada saat ini tentang bagaimana wujud dari Allah yang telah menjadi manusia itu. Dari yang tidak kelihatan menjadi kelihatan. Dari sebab itulah Ikon bisa ada dan pantas untuk digambarkan. Patung dinilai tidak bertentangan dengan iman Kristen.

Gagasan Iman Kristenpun diwujudkan dalam rupa-rupa simbol, dan pada akhirnya Diapun mewujudkan Tuhannya dalam rupa manusia yang pernah keliatan dihadapan para Rasul dan banyak orang.

Masyarakat pada abad-abad pertama kekristenan yang nantinya akan menjadi warga negara Kekaisaran Byzantium (tempat dimana seni Kristiani berkembang pesat) pada awalnya memeluk agama nenek moyang mereka yang gemar membangun patung-patung atau gambaran dewata mereka sebagai sebuah wujud rasa syukur ataupun permohonan kepada sang dewa tertentu karena/untuk mengabulkan doanya.

Budaya membangun gambaran dewa-dewi ini sebagai suatu wujud kehidupan beriman mereka kemudian menjangkiti ranah kehidupan bergereja.

Kuil-kuil yang dulunya adalah tempat menyembah dewa-dewi dipenuhi oleh gambaran para dewata, kini diganti dengan gambaran Tuhan dan orang kudus setelah gedung beralih-fungsi menjadi sebuah gereja.

Salah satu orang Kudus Gereja Katolik Roma (Fransiskus Xaverius), yang mempertobatkan banyak orang. Dari patung pagan ke patung Kristiani. Bukan bendanya yang ditentang, tapi esensinya.

Beberapa penulis Kristen Protestan menuliskan bahwa ini adalah periode dimana Gereja disekularisasi. Apakah periode ini adalah sebuah insiden? Salahkah bila patung dewa-dewi diganti dengan gambaran Tuhan dan orang kudus? Tidak kelirukah jika berdoa dihadapan patung dewa-dewi diganti jadi berdoa dihadapan patung Tuhan dan patung Theotokos Maria? Toh sama-sama patung juga, benda mati.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan dijawab dalam postingan-postingan berikut.

Jadi, sekarang kita tahu bahwa alasan praktis adanya Ikon atau seni rohani Kristen adalah berangkat dari kebutuhan manusia untuk memvisualisasikan suatu gagasan dan lahir dari budaya kafir untuk menyerupakan sosok Yang Berkuasa. Maka, secara praktis, Ikon terwujud untuk membantu umat Kristen berdoa dengan lebih sungguh.

Yang dilihat orang dari sebuah foto adalah gambaran didalamnya, bukan kertasnya, bukan juga tinta yang disusun sedemikian rupa baiknya diatas kertas, demikian juga dengan Ikon.

        Lebih jauh lagi, setelah Ikon diterima oleh khalayak ramai, Ikon dilukis sedemikian rupa sehingga tidak hanya mengandung wujud yang kelihatan dari Yang Tidak Kelihatan, melainkan mengandung pengajaran rohani yang kaya tentang apa yang tergambarkan. Misalnya saja, Ikon Tuhan bukan hanya sekadar menggambarkan sosok tubuh Tuhan Yesus secara fisik, melainkan juga menggambarkan fitur-fitur yang mengajari umat tentang siapa itu sebenarnya sosok Tuhan Yesus secara Teologis. Ikon kemudian menjadi sebuah alat pengajar umat yang benar mengenai ajaran-ajaran Iman. (CT)