CIRI-CIRI PENAMPAKAN YESUS KRISTUS dalam Ikonografi

Setiap Ikon memiliki suatu kanon khusus yang membuatnya berbeda dengan Ikon yang lain. Misalnya, ada ciri-ciri khusus dalam Ikon Petrus yang membuat Ikon Petrus berbeda dengan Ikon Andreas, sehingga orang dapat dengan segera mengenali yang mana Ikon Petrus dan mana Ikon Andreas.

Begitu juga dengan Ikon Tuhan kita. Ikon Tuhan kita mempunyai ciri-ciri wujud yang khas yang membuat Ikon Tuhan kita unik. Kanon Ikonografi akan dibahas dan dijabarkan dalam postingan yang lain.

Inilah penjabaran mengenai ciri khas Ikon Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus menurut buku yang disusun oleh Christian Tombiling:

Fitur khusus Ikon Tuhan dan Juruselamat kita,  Yesus Kristus

       Dalam Ikon Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, kita akan membaca suatu gagasan-gagasan Teologis yang mendeskripsikan mengenai siapa itu Yesus Kristus yang kita imani. Selama berabad-abad, Gereja Tuhan mengalami penyerangan-penyerangan dari rupa-rupa ajaran sesat, mulai dari yang mempertanyakan keilahian dan keinsanian dari Tuhan kita, hubungan-Nya dengan Allah, Bapa kita,  serta kemesianisitas Tuhan kita.

        Para Ikonografer menulis (melukis) Ikon Tuhan kita dan menampilkan segala fitur yang menangkis segala ajaran sesat itu. Sehingga, seperti yang sudah ditulis sebelumnya,

Ikon menjadi suatu kitab yang mengajarkan orang tentang Allah dengan benar.

Inilah Ikon dari Tuhan dan Juruselamat Yesus Kristus yang ditulis oleh tangan Theofanis Strelitzas:

Ada 8 poin yang menjadi ciri khas Ikon Tuhan kita

Inilah fitur-fitur khusus yang dapat digunakan untuk membedakan antara Ikon Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, dengan Ikon orang kudus yang lain:

  1. Inskripsi Nama Tuhan

Dalam setiap Ikon Tuhan dan setiap orang kudus, selalu terdapat sebuah inskripsi yang diletakkan disekitar lingkaran kudusnya. Dalam Ikon Tuhan, terdapat Inskripsi dalam bahasa dan huruf Yunani yang merupakan inisial dari nama Tuhan kita yang adalah
Ἰησοῦς Χριστὸς” (Iesous KHristos)(=Yesus Kristus). Inisial itu adalah “IC” dan “XC”.  

IC” merupakan inisial dari “ΙΗΣΟΥΣ” (dalam kapital)
XC” merupakan inisial dari “ΧΡΙΣΤΟΣ” (dalam kapital)

Pada inskripsi dalam Ikonografi ini, kita melihat bahwa para Ikonografer menulis huruf sigma (Σ) dengan bentuk sigma yang dipakai pada periode helenistik (sekitar abad ke-4 sebelum Masehi) yaitu dengan (C). Proses singkat-menyingkat dan menginisialkan akan dibahas dalam pasal yang selanjutnya.

Maka, melalui inskripsi ini, kita dapat membedakan Ikon Tuhan dengan Ikon orang kudus lainnya. Inskripsi juga dimaksudkan untuk mendedikasikan suatu figur jelas kepada suatu pribadi tertentu sehingga tertutup kesempatan publik berspekulasi.

2. Lingkaran Kudus (Halo) khusus

Pada setiap Ikon, seseorang yang kudus akan diberikan suatu tanda yaitu dengan suatu lingkaran cahaya disekeliling wajahnya.  Lingkaran cahaya ini biasanya dinamakan “Halo” “Glori” “Aureola”. Halo dalam bahasa Yunani, artinya lingkaran cahaya disekeliling Matahari.

Konsep memberikan “Halo” kepada orang kudus sudah ada sejak dahulu. Sebuah spekulasi, bahwa Ikon dari dewa Ra dari Mesir sudah menggunakan Halo sebagai lambang keilahian. Halo juga digunakan oleh Ikonografi Buddhis dan bahkan Halo telah ada pada ikonografi Yunani.

Ikon Ra dari Mesir
Ikon Buddha Amitabha. Kredit: Trisha Lamb President The Garchen Institute
Koin dari Menander II (90-85 SM)

Akan tetapi, Halo juga adalah mungkin terinspirasi dari kejadian nyata. Contohnya peristiwa “Glori seorang Pilot”.

Lingkaran cahaya yang muncul disekitar pesawat. Kredit: reeftraveler.com

Begitulah dalam Ikonografi Kristen, Halo juga turut dibawa sebagai sebuah tanda kekudusan seseorang. Bahkan bukan saja konsep “Halo” yang dibawa, istilahnya sendiri bahkan dipertahankan.

Namun yang menarik, pada Ikon Tuhan, kita akan selalu menemukan figur Tuhan kita, yaitu dengan lingkaran Halo yang memiliki tanda salibnya.

Ya! Halo pada Ikon Tuhan selalu memiliki tanda Salib-nya. Jejak tanda salib diletakkan pada Ikon Tuhan, dapat dilacak sampai abad ke 6.

Halo Salib dalam Ikon Tuhan dapat berbentuk seperti berikut:

variasi halo Kristus

Akan tetapi, pada abad ke-19, muncul suatu teori diantara para cendekiawan. Teori ini mengatakan bahwa simbol Halo dengan Salib didalamnya adalah simbol bagi Agama yang memuja Matahari pada zaman perunggu. Simbol ini diduga muncul sebagai bentukan dari “roda” yang digunakan dalam kereta yang digunakan Dewa Matahari.

Kemudian, selain halo dengan tanda salib, biasanya terdapat tulisan dalam bahasa dan huruf Yunani dalam salib itu.

Tulisan itu adalah “ ο ων ” yang berarti “Yang Ada”. Diambil dari ucapan Tuhan dalam Injil Yohanes VIII:58

Kata-kata itu juga berasal dari  terjemahan Yunani Septuaginta (LXX) untuk Keluaran III:14 :

“ και ειπεν ο θεος προς μωυσην εγω ειμι ο ων

Bandingkan dengan Injil Yohanes:

“εἶπεν αὐτοῖς Ἰησοῦς· ἀμὴν ἀμὴν λέγω ὑμῖν, πρὶν Ἀβραὰμ γενέσθαι ἐγὼ εἰμί.

Terjemahannya:

“Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.”

-Keluaran III:14

“Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi,  Aku telah ada.

-Injil Yohanes VIII:58

Pada Injil Yohanes, Tuhan kita, Yesus Kristus mengakui bahwa Ia adalah Yahweh dengan menggunakan ungkapan pernyataan diri yang sama dengan suara Yahweh yang menyatakan diri kepada Musa, yaitu dengan kalimat: ἐγὼ εἰμί (ο ων) / Aku adalah (Aku) / I Am (who Am)

Sehingga, Ikon ini mengungkapkan hubungan Almasih dengan Perjanjian Lama, seolah-olah hendak mengatakan bahwa Firman yang ternyatakan dalam Perjanjian Lama adalah Firman yang sama yang hadir dalam Perjanjian Baru. Fitur ini juga hendak menginjak-injak paham yang memandang bahwa Allah itu kejam dalam Perjanjian Lama, tetapi lemah dalam Perjanjian Baru. Juga, sekali lagi, fitur ini meneguhkan ke-ilahian Tuhan kita, dengan mengatakan bahwa Ia adalah Sang Yahweh sendiri.         Halo dengan tulisan “ ‘ο ”ων ” ini sendiri baru ada pada abad ke-12 di Nubia dan di Mesir .

Ikon di Deir Al-Chohada, Mesir
Ikon Tuhan sebagai Pangeran Nubia, Museum Polandia.

Menariknya, sebelum inskripsi “ ‘ο ”ων ” ada sejumlah simbol yang dikenakan pada halo Tuhan, yang mendahului tradisi ini.

Mozaik lantai, Inggris, abad ke-4. “XP” adalah singkatan dari “Kristus” dalam bahasa Yunani.
Relief Tuhan pada pintu masuk Gereja Biara Santa Iman (Sainte-Foy) dari Conques, Prancis, dari abad ke-9. Dalam halo tertulis “REX (dan) JUDEX” yang artinya, Raja dan Hakim
Tuhan tertidur dalam badai. Dari kodeks evangeliarium abad ke-11 yang disusun dibawah Kepala Biara Meschede, Hitda dari Jerman. Sepanjang evangeliarium ini,ada tulisan dalam halo Tuhan yang berbunyi “LUX” yang artinya “Terang”.
Fresko dari Gereja Santa Marina dan Kristina,Italia, abad ke-12. Tulisan dalam halo berbunyi “PHOS” yang artinya “Terang”

3. Pandangan Mata

Suatu fitur yang lain, tatapan mata Tuhan dalam Ikon akan selalu memandang kepada si pelihat. Para Ikonografer melukiskan pandangan mata Tuhan menatap lurus kedepan, sehingga, menurut sifat-sifat gambar dua dimensi, jika dilihat dari manapun, tatapan mata Tuhan akan selalu tertuju kepada si pelihat, baik ia melihat Ikon yang sama dari samping kiri-kanan maupun samping atas-bawah. Hal ini dibahas dalam Pasal II.

Patung jika dilihat dari bawah (atau dari sudut yang berbeda) pandangan mata tidak tertuju pada satu objek yang sama.
Mata dari figur dalam Ikon akan tetap memandang pada satu tujuan jika dilihat dari sudut pandang manapun.

4. Bibir

Orang mengatakan bahwa mulut seorang Yunani adalah lebih mungil. Tetapi, sejauh bukti yang ditemukan, alasan pemberian mulut yang kecil bagi Ikon lebih ke alasan Teologis.

Dalam Ikon, mulut digambarkan kurang lebih dua kali lebih kecil dari bagian mata, yang dapat ditafsirkan sebagai berikut: bahwa karena Ikon adalah gambaran dari keadaan sorgawi, maka, dapat dikatakan bahwa disana manusia akan memandang Allah yang akbar dengan kegemaran yang mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk menuturkan kembali hal itu dengan gambaran apapun.

Lagipula, mulut yang terkatup dan mata yang terbuka dan memandang jelas kearah si pelihat, mengajak semua orang yang memandang kepada Ikon untuk terus memandang dan merenungkan, untuk mendengarkan suara Allah dan menutup mulut.

Bibir yang kecil, lagi terkatup, membesarkan makna dan peran mata yang terbuka. Mengangkat pesan dari pentingnya suatu tatapan. Selain dengan tulisan, ucapan dan gerakan, manusia juga berkomunikasi lewat tatapan. Alangkah mengagumkannya sebuah tatapan dapat membukakan isi hati seseorang. Alangkah mengagumkannya lagi tatapan yang terjadi antara Tuhan dan umat-Nya, antara yang kudus dengan yang dalam perjuangan mencapai kekudusan.

5. Tunik

Dalam Ikon Tuhan, Tuhan kita digambarkan mengenakan tunik lengan panjang yang biasa dikenakan semenjak abad ke-4 atau lebih awal di Kekaisaran Byzantium.

Tunik ini memiliki “laticlave”, yaitu sebuah garis tipis yang turun dari bagian pundak sampai ke ujung penghabisan tunik. Laticlave ini biasanya hanya ada pada pakaian para bangsawan yang menunjukkan status kebangsawanan mereka.

Highlight untuk Laticlave dalam Ikon Kristus O Zoodotis
Busana Romawi dengan Laticlave

Tunik yang dipakai Tuhan kita pada awalnya (dengan pengecualian Ikon-ikon dari Katakombe pra-kejayaan Kekristenan Byzantium) berwarna biru seiras dengan mantolnya. Warna biru ini sebenarnya adalah warna ungu kerajaan yang disebut “Tyrian Purple”, dan dimaksudkan untuk menunjukkan status Tuhan kita sebagai seorang Tuhan (Penguasa yang tinggi). Namun kemudian, tidak jelas kapan, tapi pastinya setelah abad ke 11, hampir semua Ikon Tuhan memiliki tunik berwarna merah. Warna merah dikenal oleh orang Yunani kuno dan orang Ibrani sebagai lambang cinta dan romantisme oleh sebab keidentikkan warna merah dengan darah. Oleh tradisi Ikonografi Yunani, warna merah tunik dipandang sebagai kemanusiaan Tuhan kita yang dikenakan-Nya semenjak inkarnasi-Nya. Sementara dalam tradisi Slavik, warna merah dalam tunik Ikon Tuhan kita dimaknai sebagai keilahian Tuhan kita yang melekat pada diri Tuhan kita, yang nantinya akan dibalut dalam kemanusiaan-Nya yang tersimbolkan dalam mantol-Nya yang berwarna biru.

6. Mantol (Himasi)

Tuhan kita mengenakan suatu mantol berwarna biru. Warna biru ini dapat kita duga bahwa sesungguhnya yang dimaksudkan adalah warna ungu kerajaan, seperti yang sudah dijelaskan sebelummnya.

Akan tetapi, kemudian dalam Ikonografi berkembang teori tentang warna biru mantol Tuhan. Dalam tradisi Yunani, warna biru mantol Tuhan dipandang sebagai kemuliaan sorgawi, sebagaimana langit berwarna biru, demikianlah warna biru menggambarkan kemuliaan kerajaan Allah. Sementara dalam tradisi Slavik, warna biru dipandang sebagai warna untuk kemanusiaan Tuhan kita yang melingkupi ke-Allahan-Nya.

Mantol ini disebut “Himation” atau himasi yang sudah digunakan orang Yunani sejak kira-kira 7 abad sebelum Masehi.

7. Tangan Kanan

Dalam tradisi Kekristenan dan budaya Yahudi yang dibawa sebelumnya, sisi kanan lebih diistimewakan dibandingkan sisi kiri.

Dalam Alkitab, contohnya, Keluaran XV:16

“Tangan kanan-Mu, TUHAN, mulia karena kekuasaan-Mu, tangan kanan-Mu, TUHAN, menghancurkan musuh.”

Kata “kanan” (Ibrani: יָמִין – YAMIN) dalam penghayatan Yahudi dipakai dalam mengungkapkan kebaikan, kekuatan atau kemuliaan.

Maka, tangan kanan Tuhan dalam Ikon-nya selalu menggambarkan tangan yang memberikan berkat.

Tangan berkat ini memiliki berbagai variasi dalam sejarah Ikonografi, sebagaimana berkat dengan tanda Salib yang diberikan Imam dan diterima oleh umat pun berbeda-beda dalam caranya sepanjang sejarah ritus dan tradisi Iman.

Di Barat, Imam memberi berkat dengan tiga jari terbuka (jempol, telunjuk, tengah) dua jari tertutup (manis dan kelingking) atau dengan lima jari yang terbuka semuanya. Di Timur, tangan berkat “IC – XC” dipertahankan. Salah satu bukti bahwa bentuk tangan berkat ini sudah digunakan sejak dahulu adalah pada Ikon persembahan Melkisedek dan Habel dari mozaik di Ravenna yang berasal dari abad ke-6. (Perhatikan tangan yang dari atas)

Mozaik dari Sant’apollinare Nuovo

Maka, tangan kanan Tuhan dalam Ikon-Nya ini memberikan berkat adalah seperti yang kita terima sekarang ini.

Variasi tangan berkat

Bagaimana sebenarnya jari-jari tangan kanan itu menunjukkan nama Tuhan kita (“ICXC”)?

Perhatikan gambar dibawah ini !

Terangkat atau tidaknya jari kelingking tidak begitu dipermasalahkan. Kaum Orthodox Ritus Lama (Old Rite/Old Believer) berteguh hati untuk mempertahankan cara berkat dengan jari kelingking yang tidak terangkat, yang membuatnya juga sekilas tidak begitu berbeda dengan tangan berkat yang disampaikan Imam Latin.

Mengapa tangan berkat itu harus diambil dari nama Tuhan kita? Mengapa harus nama Yesus Kristus ?

Mungkin jawabannya ada pada ayat ini:

“Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia  dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut  segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.”

Filipi II:9-10

Juga,

“Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat.”

Amsal XVIII:10

        Sehingga, tangan kanan Tuhan kita dalam Ikon menyimbolkan kekuatan-Nya dalam kerahiman-Nya yang melimpahkan kerahiman kepada kita, umat-Nya, melalui berkat didalam nama-Nya yang penuh kuasa.

8. Tangan Kiri

Dalam Ikon ini, Tuhan kita tampak memegang sebuah kitab dengan tangan kiri-Nya. Banyak interpretasi yang dikemukakan untuk menjawab pertanyaan soal “Kitab apakah itu”.

    Suatu teori mengatakan bahwa kitab yang dipegang oleh Tuhan kita dalam Ikon ini adalah Kitab Injil. Kitab ini biasanya dihiasi dengan tanda Salib dan permata dan batu berharga yang mendukung teori bahwa itu adalah kitab Injil. Juga pada Ikon yang sama, seringkali kitab ini tampak terbuka. Jika Ikon Tuhan kita dengan kitab yang tertutup biasanya disebut sebagai Ikon “Pantokrator” (=Segala Kuasa/ Mahakuasa/ Sabaoth/Penguasa segalanya/Mahamenopang), maka Ikon Tuhan kita dengan kitab yang terbuka biasanya disebut sebagai Ikon “Daskalos” (=Guru) atau juga “O Zoodotis” (=Terang Dunia).

Kitab yang terbuka ini menyampaikan suatu ayat dari Injil yang adalah suatu pernyataan mengenai pribadi Tuhan kita (mis. “Akulah terang dunia” atau “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup”).

Suatu teori yang lain, mengatakan bahwa kitab itu adalah kitab kehidupan. Kitab itu sudah tertutup dan dipegang Tuhan kita dengan posisi depannya mengahadap kedalam yang menandakan bahwa kitab itu telah selesai tertulis. Dengan menginterpretasikan kitab yang dipegang Tuhan kita adalah kitab kehidupan, kita menempatkan juga sisi keadilan Tuhan kita sebagai seorang hakim. Jika Dia adalah hakim yang adil, pada saat yang sama Dia juga adalah Tuhan yang pemurah dan Mahabelaskasih seperti yang tergambar pada tangan kanan-Nya.

Variasi Kitab

Pada Ikon Tuhan yang lain (seringkali juga pada Ikon kanak-kanak Tuhan), ketimbang menggenggam Kitab, Tuhan kita menggenggam sebuah surat gulungan. Surat ini diinterpretasikan sebagai lambang dari sebuah Perjanjian yang Baru yang dibawa oleh-Nya. (CT)